UNTITLE

Ketika aku hilang, terombang ambing tak tentu arah, aku berseru Ya Allah..
Ketika aku tak bisa menangis kala mengingat urusan ukhrawi, aku berseru Ya Allah..
Aku menjerit dalam hati, bertanya, apakah hatiku sudah mati, Ya Allah?
Jangan sampai itu semua terjadi..

Seorang gadis yang baru saja beranjak dewasa mulai hilang arah. Terlalu banyak urusan hingga terkadang ia lupa dengan Yang Menciptakan segala urusan. Ia, seorang gadis di perbatasan dua golongan, yang selalu mengingat Tuhan dan yang tak peduli dengan Tuhan. Seringkali ia bersama orang-orang muslim soleh dan solehah, bersama-sama mendekatkan diri kepada-Nya. Ia sembahyang, mengaji, berdzikir. Ia senang membantu sesama. Apa yang ia peroleh, tak tanggung-tanggung ia bagikan ke saudara-saudaranya untuk sekedar beramal, menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya. Ia tersenyum selalu, menyapa orang-orang disekelilingnya, menghargai apa yang ada di dekatnya, mengerti bila ada yang tak sesuai dengan keinginannya. Ia gadis penyabar, ia ikhlas menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya. Ia tak mudah putus asa, ia terus mencari jalan, untuk menemukan hakekat hidup yang sebenarnya. Ia berpandangan, hidup adalah pemberian. Anugerah dan amanat yang harus ia jalankan. Maka ia senantiasa senang untuk menjalankan kehidupan. Ia berpegang teguh pada kasih sayang Tuhan, ia percaya, Tuhan selalu bersamanya, menuntunnya, membangunkannya saat ia jatuh, memudahkan segala urusannya dan memperingatkannya.

Semakin hari, urusan ia hidup di dunia semakin bertambah. Semakin runyam, semakin pelik. Hingga ia tak lagi seperti dahulu. Begitu rumit dan amat sangat terasa pelik ia pikir. Terkadang, ia tak bisa menahan emosi. Ia drastis menjadi seorang gadis yang cengeng. Ia sering menangis saat ia berada dalam kesulitan. Tak seperti dahulu. Kedekatan dengan Tuhannya pun semakin rapuh, semakin menjauh. Ia tak lagi tersenyum saat duka. Ia tak lagi tegar menghadapi kehidupan yang ada.

Benar, ia hidup di perbatasan dua golongan. Terkadang ia terseret ke golongan orang-orang yang lupa akan Tuhan mereka. Namun ia hanya menggelengkan kepala melihat apa yang ada. Ia tak sampai melakukan apa yang orang-orang lakukan di golongan mereka itu, melupakan Tuhan. Lalu, ia kembali ke perbatasan. Ia melihat golongan orang-orang yang selalu mengingat Tuhannya, golongan orang-orang yang terjaga kebersihan hati dan tingkah lakunya. Ia sadar akan dosa-dosanya. Ia pun akhirnya ingin bersama mereka. Bersama-sama mencari ridla Allah untuk kepentingan hidupnya, untuk urusan ukhrawinya. Ia pun senantiasa berdoa..

Ya Allah..
Jagalah aku agar aku tak tersesat..
Jagalah aku agar aku selalu berada di jalan-Mu..
Jagalah aku agar aku selalu mengingat-Mu..
Tuntun aku selalu Ya Allah..
Jangan biarkan aku berjalan tanpa ridla dari-Mu..
Jangan biarkan aku hilang karena jauh dari-Mu..
Jagalah hatiku, jagalah iman dan Islamku..
Amin, Ya Rabbal ‘alamiin..

Ia pun berharap, ia dapat meraih kebahagiaan..

Kebahagiaan yang hakiki, duniawi dan ukhrawi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s