Pendidikan Agama

MAKALAH

KERANGKA DASAR AGAMA ISLAM (AKHLAQ)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu : Dra. Zakiyah, M.S.I

Disusun Oleh kelompok 9 :

  1. 1. Nur Laeli                                            (0901100006)
  2. 2. Fahmi Prabawati                    (0901100025)
  3. 3. Riza Milawati             (0901100028)
  4. 4. Sri Purnama Sari        (0901100031)
  5. 5. Raras Widowati                     (0901100051)

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S1

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini tanpa halangan dan tepat pada waktunya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Ibu Dra. Zakiyah, M.S.I selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
  2. Orang Tua yang telah mendukung penyusunan makalah ini dari segi materi maupun non materi.
  3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu segala sesuatunya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat guna menambah wawasan dan pengetahuan baik bagi penulis khususnya maupun pembaca pada umumnya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, penulis mohon maaf apabila di dalam penyusunan makalah ini terdapat kesalahan yang sekiranya kurang berkenan di hati pembaca.

Purwokerto,    April 2010

Penulis


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………..               i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………               ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………..              iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG………………………………………………………………              1
  2. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………..              1

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………..              2

  1. PENGERTIAN AKHLAK………………………………………………………..              5
  2. RUANG LINGKUP AKHLAK………………………………………………….              6
  3. SUMBER AKHLAK………………………………………………………………..              7
  4. KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAK……………………            12
  5. CIRI-CIRI AKHLAK DALAM ISLAM………………………………………            14

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………….            16

  1. KESIMPULAN……………………………………………………………………….            16
  2. SARAN………………………………………………………………………………….            16

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………….            17

BAB I

PENDAHULUAN

A.        Latar belakang

Dalam keseluruhan ajaran islam, akhlak menempati kedudukan istimewa dan sangat penting. Akhlak dalam islam bukanlah moral, yang kondisional dan situasional, tetapi akhlak yang benar-benar memiliki nilai yang mutlak. Nilai-nilai baik dan buruk, terpuji dan tercela berlaku kapan dan di mana saja dalam segala aspek kehidupan, tidak dibatasi oleh waktu dan ruang. Akhlak dapat membentuk sikap, watak, perilaku, dan tingkah laku manusia. Ajaran akhlak dalam islam sesuai dengan fitrah manusia. Manusia akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki (nyata) bila mengikuti nilai-nilai kebaikan. Akhlak islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya. Demikianlah sebagian dari karakteristik akhlak dalam islam yang uraiannya secara lebih terperinci.

B.        Rumusan masalah

Dalam makalah ini rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Apa Pengertian dan Ruang Lingkup Akhlak?
  2. Apa Sumber Akhlak Dalam Islam?
  3. Bagaimana Kedudukan dan Keistimewaan Akhlak?
  4. Bagaimana Ciri-Ciri Akhlak Dalam Islam?


BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN AKHLAK

Setiap manusia tidak terlepas dari akhlak, karena ia merupakan sebagian dari padanya. Akhlak ada yang baik dan ada yang buruk. Secara etimologis (lughatan)akhlak (Bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti atau tingkah laku. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (Pencipta), makhluk (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan).

Akhlak adalah tingkah laku yang telah melekat pada diri seseorang Karena hal itu telah sering dilakukannya secara berulang-ulang dan terus-menerus, sehingga ia berbuat secara spontanitas kalau perbuatannya itu sesuai dengan ajaran Islam maka dinamakan akhlak yang baik. Sebaliknya, bila bertentangan dengan ajaran Islam dinamakan akhlak yang buruk. Akhlak itu dapat dibentuk dan diusahakan sehingga mengarah pada akhlak baik, begitu pula sebaliknya.

Bila seseorang dalam tindak tanduknya banyak cenderung berbuat sesuai dengan akhlak yang baik maka ia akan menjadi berakhlak baik. Begitu pula bila seseorang tingkah lakunya cenderung kepada keburukan maka ia akan buruk akhlaknya. Umpamanya seseorang yang di dalam kehidupannya membiasakan sifat jujur, maka bersikap jujur itu menjadi akhlaknya. Dengan demikian ia dinamakan orang yang jujur. Akhlak itu sikap dan perbuatan, karena ada kemungkinan terjadi seorang yang mempunyai sikap yang baik tetapi dia tidak dapat berbuat Karena ketidak mampuannya, dan sering pula terjadi orang yang berbuat baik tapi karena sesuatu hal yang lain, bukan karena sikap hatinya yang ikhlas, seperti ada orang yang memberikan bantuan kepada orang miskin karena mengharapkan pujian atau agar disebut orang yang dermawan. Perbuatan demikian disebut ria. Sebaliknya ada orang yang berhati dermawan, tetapi dia tidak memberikan pertolongan karena dia tidak mampu melakukannya. Di antara sifat dan perbuatan yang termasuk akhlak baik adalah jujur, amanah, menepati janji, pemaaf, tawakal, sabar, dan ikhlas.Sebagian dari akhlak yang buruk adalah sombong, dendam, dengki, ria, dan pemarah.

Secara terminologis (ishihilabun) ada beberapa definisi tentang akhlak di antaranya:

  1. Imam al-Ghazali:

“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”

  1. Ibrahim Anis:

“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik dan buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.”

  1. Abdul Karim Zaidan:

“Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat-sifatyang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.”

Ketiga definisi diatas sepakat menyatakan bahwa akhlak atau khuluq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

Contoh:

  • Bila seseorang menyumbang dalam jumlah besar untuk pembangunan masjid setelah mendapat dorongan dari seorang da’I (yang mengemukakan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang keutamaan membangun masjid di dunia), maka orang tadi belum bisa dikatakan mempunyai sifat pemurah, karena kepemurahannya waktu itu lahir setelah mendapat dorongan dari luar, dan belum tentu muncul lagi padakesempatan yang lain. Boleh jadi, tanpa dorongan seperti itu, dia tidak akan menyumbang, atau kalaupun menyumbang hanya dalam jumlah sedikit. Tapi manakala tidak ada doronganpun dia tetap menyumbang, kapan dan di mana saja, barulah bisa dikatakan dia mempunyai sifat pemurah.
  • Dalam menerima tamu, bila seseorang membeda-bedakan tamu yang satu dengan yang lain, atau kadang kala rama dan kadangkala tidak, maka orang tadi belum bias dikatakan mempunyai sifat memuliakan tamu. Sebab seseorang yang mempunyai akhlak memuliakan tamu, tentu akan selalu memuliakan tamunya.

Dari beberapa definisi diatas kata akhlak bersifat netral belum menunjuk pada baik dan buruk, tapi pada umumnya menentukan sifat baik dan buruk, sikap dan perbuatan manusia.

B.  RUANG LINGKUP AKHLAK

Muhammad ‘Abdullah Draz dalam bukunya Dustur al-Akhlak fi al-Islam membagi ruang lingkup akhlak kepada lima bagian:

  1. Akhlak Pribadi (al-akhlak al-faradiyan). Terdiri dari:

a)      Yang diperintahkan (al-awamir)

b) Yang dilarang (al-nawahi)

c)      Akhlak dalam keadaan darurat (al-mubahat)

d)      Akhlak dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar)

  1. Akhlak Berkeluarga (al-akhlak al-usariyah). Terdiri dari:

a)      Kewajiban timbal balik orang tua dan anak (wajibat nahwa al-ushul wa al-furu’)

b)      Kewajiban suami isteri (wajibat baina al-azwaj)

c)      Kewajiban terhadap karib kerabat (wajibat nahwa al-aqarib)

  1. Akhlak Bermasyarakat (al-akhlak al-ijtima’iyyah). Terdiri dari:

a)      Yang dilarang (al- mahzhurat)

b)      Yang diperintahkan (al-awamir)

c)      Kaedah-kaedah adab (qawa id al-adab)

  1. Akhlak Bernegara (akhlak ad-daulah). Terdiri dari:

a)      Hubungan antar pemimpin dan rakyat (al-alaqah baina ar-rais wa as-sya’b)

b)      Hubungan luar negeri (al-alaqat al-khairjiyyah)

  1. Akhlak Beragama (al-akhlak ad-daniyyah). Yaitu kewajiban terhadap Allah SWT (wajibat nahwa Allah)

Dari sistematika yang dibuat oleh ’Abdullah Draz di atas tampaklah bagi kita bahwa ruang lingkup akhlak itu sangat luas, mencakup seluruh aspek kehidupan,baik secara vertikal dengan Allah SWT maupun secara horizontal  sesama makhluk-Nya.

C.  SUMBER AKHLAK

Yang di maksud sumber akhlak adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran islam, sumber akhlak adalah Al- Qur’an dan Sunnah bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral. Dan bukan pula karena baik atau buruk dengan sendirinya sebagaimana pandangan Mu’tazilah.

Dalam konsep akhlak, segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, semata-mata karena Syara’ (Al-Qur’an dan Sunnah) menilainya demikian. Kenapa sifat sabar, syukur, pemaaf, pemurah dan jujur misalnya dinilai baik? Tidak lain karena Syara’ menilai sifat-sifat itu baik. Begitu juga sebaliknya, kenapa pemarah, tidak bersyukur, dendam, kikir dan dusta misalnya dinilai buruk? Tidak lain karena Syara’ menilainya demikian.

Apakah Islam menafikan peran hati nurani, akal dan pandangan masyarakat dalam menentukan baik dan buruk? Atau dengan ungkapan lain dapatkah ketiga hal tersebut dijadikan ukuran baik dan buruk?

Hati nurani atau fitrah dalam bahasa Al-Qur’an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya (QS. Ar-Rum 30:30). Karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian dan selalu cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu mendambakan dan merinndukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Tuhan, karena kebenaran itu tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan lingkungan. Firah hanyalah merupakan potensi dasar yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Betapa banyak manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran. Oleh sebab itu ukuran baik dan buruk tidak dapat diserahkan sepenuhnya hanya kepada penilaian Syara’. Semua keputusan Syara’ tidak dapat bertentangan dengan hati nurani manusia, karena kedua-duanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT.

Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan. Dan keputusannya bermula dari prngalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh karena itu keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subyektif.

Demikianlah tentang hati nurani dan akal pikiran. Bagaimana dengan pandangan masyarakat? Pandangan masyarakat juga bisa dijadikan salah satu ukuran baik dan buruk, tetapi sangat relative, tergantung sejauh mana kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan pikiran mereka dapat terjaga. Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal pikiran mereka sudah dikotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji tentu tidak bias dijadikan ukuran. Hanya kebiasaan masyarakat yang baiklah yang bias dijadikan ukuran.

Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa ukuran yang pasti (tidak spekulatif), obyektif, komprehensif dan universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan yang lain-lainnya.

D.  KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN AKHLAK DALAM ISLAM

Dalam keseluruhan ajaran  Islam akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan sangat penting. Hal itu dapat dilihat dalam beberapa nomor berikut ini:

  1. 1. Rasulullah SAW menempatkan penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Baihaqi)

  1. 2. Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam

Sehingga Rasulullah saw pernah mendefisinikan agama itu dengan akhlak yang baik (husn al-khuluk). Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW:

“Ya Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab: (Agama adalah) akhlak yang baik.”

Pendefisinian agama (Islam) dengan akhlak yang baik itu sebanding dengan pendefinisian ibadah haji dengan wukuf di ‘Arafah. Rasulullah saw menyebutkan, “Haji adalah Wukuf di Arafah.” Artinya tidak syah haji seseorang tanpa wukuf di Arafah.

  1. 3. Akhlak yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.

Rasulullah bersabda:

“Tidak ada satupun yang akan lebih memberatkantimbangan (kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik…” (HR. Tirmidzi)

Dan orang yang paling dicintai serta paling dekat dengan Rasulullah SAW nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya. Abdullah ‘Umar berkata:

“Aku mendengar Rasululla saw bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan siapa diantara kalian yang paling aku cintai dan yang paling dekat tempatnya denganku nanti pada hari kiamat?” Beliau mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Lalu sahabat-sahabat menjawab: “Tentu ya Rasulullah.” Nabi bersabda:”Yaitu yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Ahmad)

  1. 4. Rasulullah saw menjadikan baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.

Hal ini dapat kita perhatikan dalam beberapa  hadist berikut ini:

a)                  Rasulullah saw bersabda:

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adlah yang baik akhlaknya.” (HR.Tirmidzi)

b)      Rasulullah saw bersabda:

“Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain.”

(HR. Hakim dan Thabrani)

c)                  Rasulullah saw bersabda:

“Demi Allah , dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman!

Seorang sahabat bertanya:”Siapa dia(yang tidak beriman itu) ya  Rasulullah?

Beliau menjawab: Orang yang tetanggganya tidak aman dari keburukannya.”

(HR. Bukhari)

d)                  Rasuullah saw bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Demikianlah nampak bagi kita dalam beberapa teks hadist di atas bahwa Rasulullah saw mengaitkan antara rasa malu, adab berbicara dan sikap terhadap tamu dan tetangga misalnya dengan eksistensi dan kualitas iman seseorang.

  1. 5. Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.

Misalnya shalat, puasa, zakat dan haji. Perhatikanlah beberapa nash berikut ini:

a)      Firman Allah SWT:

“…dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”(QS.Al-‘Ankabut 29:45)

b)                  Sabda Rasulullah saw:

“Bukanlah puasa itu hanya menahan makan dan minum saja tapi puasa itu menahan diri dari perkataan kotor dan keji. Jika seseorang mencaciatau menjahilimu maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR.Ibnu Khuzaimah)

c)      Firman Allah SWT:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”(QS.At-Taubah 9:103)

d)      Firman Allah SWT:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, mak tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh0 bebat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS.Al-Baqarah 2:197)

Dari beberapa ayat dan hadist di atas dapat melihat adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, zakat dan haji dengan akhlak. Seorang yang mendirdikan shalat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan yang tergolong kei dan mungkar. Sebaba apalah arti shalatnya kalau dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seorang yang benar-benar berpuasa demi mencari ridho Allah SWT, di samping menahan  keinginanya untuk makan dan minum, tentu juga akan menahandirinya dari segal kata-kata yang kotor dan perbuatan yang tercela. Sebab tanpa meninggalkan perbuatan yang tercela itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan haus semata. Begitu juga dengan ibadah zakat dan haji, dikaitkan oleh Allah SWT hikmahnya dengan aspek akhlak. Ringkasnya, akhlak yang baik adalah buah dari ibadah yang baik, atau ibadah yang baik dan diterima oleh Allah SWT tentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji.

  1. 6. Nabi Muhammad saw slalu berdoa agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau.

Salah satu doa beliau adalah:

“(Ya Allah) tunjukilah aku (jalan menuju) akhlak yang baik, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk (menuju jalan) yang lebih baik selain Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlak yang buruk, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR.Muslim)

  1. 7. Di dalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak, baik berupa perintah untuk berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang-orang yang mematuhi perintah itu, maupun larangan berakhlak yang buruk serta celaan dan doa bagi orang-orang yang melanggarnya. Tidak diragukan lagi bahwa banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an tentang akhlak ini membuktikan betapa pentingnya kedudukan akhlak di dalam Islam.

Demikianlah antara lain beberapa hal yang menjelaskan kepada kita kedudukan dan keistimewaan akhlak di dalam Islam.

E. CIRI-CIRI AKHLAK DALAM ISLAM

a)      Memiliki disiplin moral yang sangat tinggi

Segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia tidak terlepas dari pengawasan dan penilaian Allah SWT, karena Dia Maha Tahu dan Maha Adil. Dengan demikian semua perbuatan manusia akan dituntut pertanggungjawabannya.

b)      Sebagai kebaikan yang mutlak

Akhlak islamiyah sifatnya mutlak, baik bagi perorangan, social masyarakat, maupun lingkungan serta tidak terikat oleh situasi dan kondisi. Kemutlakan ini karena semuanya telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Hadist.

c)      Bersifat universal

Akhlak islamiyah merupakan suatu tatanan yang berlaku sepanjang masa dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Di samping itu juga tidak memberatkan manusia karena keberadaanya sangat sejalan dengan naluri manusia yang cenderung berbuat baik.

d)      Merupakan suatu kewajiban yang harus dipatuhi

Berakhlak yang baik merupakan salah satu ajaran Islam yang pada dasarnya semua perintahnya merupakan suatu keharusan yang wajib dijalankan oleh umat manusia.

e)Berprinsip keseimbangan

Akhlak Islamiyah tidak memusuhi dan menolak kehidupan duniawi tetapi berjalan seiring dengan kehidupan akhirat., tetapi bukan berarti harus meninggalkan segala urusan yang berkaitan dengan keduniawian.

f)        Sebagai kontrol moral yang menyeluruh

g)      Dalam Islam bahwa hati nurani bias dijadikan tolok ukur dalam menentukan suatu kebajikan. Jika kita melakukan sesuatu kemudian malu bila perbuatan tersebut diketahui orang lain, berarti perbuatan tersebut tidak berakhlak. Sebaliknya, jika kita melakukan suatu perbuatan kemudian merasa puas jika pernuatan tersebut terpenuhi maka itu merupakan suatu kebajikan. Jadi hati nurani merupakan control moral yang sangat kuat dan efektif untuk menggiring kita agar senantiasa berbuat baik.


BAB III

PENUTUP

  1. 1. Kesimpulan

Dari materi Kerangka Dasar Agama Islam yang telah diuraikan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara etimologis (lughatan) akhlak (Bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti atau tingkah laku. Berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (Pencipta), makhluk (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan). Sedangkan dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa akhlak atau khuluq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar.

  1. 2. Saran

Kita sebagai seorang yang berkecimbung di dalam dunia pendidikan, khususnya sebagai calon seorang guru, harusnya kita lebih mengerti dan memahami apa yang telah dipaparkan diatas, diharapkan nantinya kita juga dapat mengamalkan materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Semoga apa yang telah kita pelajari, dapat bermanfaat untuk kehidupan kita dimasa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Yunahar. 2009. Kuliah Akhlak. Yogyakarta : Lembaga pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI)

Muyadi dan Alfat, Masan. 2003. Buku Akidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas II. Semarang : PT. Karya Toha Putra

Departemen Agama RI. 1986. Kurikulum Aqidah Akhlaq: Jakarta

Komentar
  1. hasanuddin bakri mengatakan:

    penyusunannya cukup bagus tapi kenapa tdk dilengkapi dengan tulisan al-qurannya.

  2. elylucuimud mengatakan:

    tulisan al qur’annya tidak bisa terbaca..

    afwan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s