Aromanis 1

Posted: 15 Agustus 2010 in Cerpen, curhatt, ENTEREST, Motivasi, sajak
Tag:, , , , , ,

Inilah sepenggal kisahku. Kisahku dengan Si Tangan Manis, kisah tentang “Aromanis”.

Layaknya gadis cilik berusia 4 tahun, aku menangis menginginkan aromanis yang dibawa laki-laki cilik berusia 6 bulan lebih muda dariku. Aku menangis menginginkan aromanis dari Si Tangan Manis. Hanya itu..

Ibuku gelisah, Ibuku carikanku aromanis lain. “Tak mau, aku tetap tak mau”. Ibuku biarkan aku menangis, Ibuku tak minta aromanis dari Si Tangan Manis..

Aku terus memperhatikan Si Tangan Manis, ia bermain dengan teman perempuannya. Ia berbagi aromanis dengannya. Sesekali, Si Tangan Manis melirik dan memperhatikan aku. Aku terus menangis, aku ingin aromanis..

Melihatku menangis, gelisah menghampiri Si Tangan Manis. Ia menengok padaku berkali-kali. Lalu, saat teman perempuannya sedang bermain sendiri, Si Tangan Manis datang menghampiriku. Ia menawarkan aromanis kepadaku..

Aku senang, aku berjingkrak riang.. Aku makan aromanis bersama Si Tangan Manis. Kami duduk bersama, duduk dibawah pohon penuh suka cita. Lama berceritera, lama makan aromanis dengan Si Tangan Manis, teman Si Tangan Manis melirik, melihatku sinis. Kemudian ia lari, dengan matanya yang berkaca-kaca. Tangan Manis terdiam, ia tak mengejar temannya. Mungkin Tangan Manis dilema, tak tahu harus bagaimana..

Tangan Manis lalu pergi. Ia menitipkan aromanisnya kepadaku. Aku senang, tangisku hilang. Tangan Manis baik sekali kepadaku, ia memberikan aromanisnya kepadaku..

Aku melihat dari jauh, aromanis menghampiri temannya. Entah apa yang dibicarakan oleh Si Tangan Manis. Lalu teman Si tangan Manis pergi dari Tangan Manis..

Ku panggil Tangan Manis, lalu kami bersama lagi. Bermain dan makan aromanis bersama lagi. Namun Si Tangan Manis tak nampak senang lagi, ia terlihat begitu gelisah. Lalu tiba-tiba, dengan paksa Si Tangan Manis merebut aromanisnya dariku. Ia lari, pergi entah kemana..

Aku berteriak, menangis, memanggil Si Tangan Manis, “Tangan Manis… Tangan Manis…!!”

Namun Si Tangan Manis seperti tak mau mendengarkan teriakanku. Ia terus berlari, namun tak mengejar temannya. Ia lari sendiri, entah kemana. Aku terus memperhatikannya, sampai bayangnya hilang tak terlihat lagi..

Aku sedih, sendirian dalam tangisanku. Aku pikir Si Tangan Manis akan bermain terus denganku, berbagi aromanis seharian denganku. Tapi ternyata tidak. Ia pergi entah kemana, tanpa aku mengetahuinya..

Lalu Ibuku menghampiriku, “Nanti pasti ada aromanis lain, dari temanmu yang lain.. Jangan sedih ya nak? Hapus air matamu..”

Aku pun berhenti menangis, berhenti sesenggukan. Ku hapus air mataku, lalu ku tatap Ibuku..

“Aku ingin aromanis yang lebih manis, dari hati yang manis..”

🙂

Komentar
  1. wahyoe mengatakan:

    wah jan jan…
    ksihan bgt pngn aromanis pa hati smanis aromanis tu nma’a…
    sbar ae de… xo dh dpt rstu babeh ntr dpet yg semanis aromanis deh…
    amin amin…

  2. elylucuimud mengatakan:

    pengen aromanis dari hati yang manis..

    :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s