LAPORAN OBSERVASI BIOLOGI SPESIES MAMALIA, AVES DAN REPTILIA

Posted: 22 Juli 2010 in Materi Kuliah
Tag:, , , , , ,

LAPORAN OBSERVASI BIOLOGI

SPESIES MAMALIA, AVES DAN REPTILIA

Disusun Untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah Biologi di SD

Dosen Pengampu : Subuh Anggoro, S.Pd, M.Pd

Disusun Oleh Kelas II A :

1.         Nur Laeli                                  ( 0901100006 )

2.         Fahmi Prabawati                       ( 0901100025 )

3.         Riza Milawati                            ( 0901100028 )

4.         Erna Yanti                                ( 0901100030 )

5.         Sri Purnama Sari                       ( 0901100031 )

6.         Astrie Primanintyas A. P.          ( 0901100049 )

7.         Yuli Fitriyana                            ( 0901100105 )

PROGRAM STUDI PGSD S1

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas laporan observasi ini tanpa halangan dan tepat pada waktunya. Untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada :

  1. Bapak Subuh Anggoro, S.Pd, M.Pd selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Biologi di SD yang telah membantu dalam penyusunan laporan observasi ini.
  2. Orang Tua yang telah mendukung penyusunan laporan observasi ini dari segi materi maupun non materi.
  3. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu segala sesuatunya sehingga laporan observasi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Penyusun berharap semoga laporan observasi ini dapat bermanfaat guna menambah wawasan dan pengetahuan baik bagi penyusun khususnya maupun pembaca pada umumnya.

Penyusun menyadari bahwa laporan observasi ini jauh dari sempurna, penyusun mohon maaf apabila di dalam penyusunan laporan observasi ini terdapat kesalahan yang sekiranya kurang berkenan di hati pembaca.

Purwokerto,         Juli 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………. ii

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………………….. 1
  2. Tujuan………………………………………………………………………………….. 1
  3. Jenis dan Waktu………………………………………………………………………………….. 2
  4. Objek / Sasaran…………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………………….. 3

  1. Spesies Mamalia……………………………………………………………………………….. 3
  2. Spesies Aves……………………………………………………………………………………. 14
  3. Spesies Reptilia…………………………………………………………………………… …. 24

BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………………… 34

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………….. 34
  2. Saran………………………………………………………………………………….. 34

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………… …. 36

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Untuk memenuhi tugas Biologi SD mengenai Spesies Hewan, penyusun melakukan pengamatan dan penelitian terhadap berbagai jenis hewan sesuai dengan spesiesnya. Penyusun melakukan pengamatan dan penelitian tersebut di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta.

Di Kebun Binatang Gembiraloka terdapat banyak sekali spesies hewan, termasuk hewan-hewan langka yang dilindungi. Namun yang penyusun amati hanyalah tiga spesies saja, yakni spesies Mamalia, Aves dan Reptilia. Penyusun mengamati bentuk dan ciri-ciri hewan yang ada, lalu penyusun buat menjadi sebuah laporan.

Untuk melengkapi laporan tersebut, penyusun juga mengamati hewan-hewan yang sudah dalam pengawetan di Museum Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Keterangan-keterangan yang belum penyusun peroleh di Kebun Binatang, penyusun cari di Museum Biologi tersebut. Semua materi tentang hewan-hewan yang penyusun amati akan disajikan secara lengkap dalam laporan ini. Semoga bermanfaat.

  1. TUJUAN

Tujuan disusunnya laporan ini antara lain adalah sebagai berikut :

    1. Untuk mengetahui jenis jenis hewan dari spesies Mamalia, Aves dan Reptilia beserta ciri-ciri fisik yang dimilikinya,
    2. Untuk mengetahui cara hidup dan habitat dari jenis-jenis hewan Mamalia, Aves dan Reptilia,
    3. Untuk mengetahui perbedaan dan ciri utama yang dimiliki dari masing-masing hewan Mamalia, Aves dan Reptilia.

  1. JENIS DAN WAKTU

Jenis observasi yang penyusun lakukan adalah observasi lingkungan hidup dunia binatang khususnya mengenai “Spesies Mamalia, Aves dan Reptilia”.

Waktu pelaksanaan observasi “Spesies Mamalia, Aves dan Reptilia” yang telah penyusun laksanakan adalah sebagai berikut :

Hari         : Sabtu

Tanggal   : 17 Juli 2010

  1. OBJEK / SASARAN

Objek lokasi / sasaran pelaksanaan observasi yang telah penyusun laksanakan ada 2 (dua) tempat, yakni di Kebun Binatang dan di Museum.

  • Di Kebun Binatang :

Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta.

  • Di Museum :

Museum Biologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. SPESIES MAMALIA

Spesies Mamalia yang kelompok kami amati di Kebun Binatang “Gembira Loka” adalah sebagai berikut :

    1. Gajah Asia

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Mammalia

Ordo                : Proboscidea

Familia : Elephantidae

Genus               : Elephas

Species            : Elephas Maximus

Nama Lokal     : Gajah Asia

Keterangan :

Gajah asia berbeda daripada Gajah afrika. Gajah asia memiliki telinga lebih kecil sedikit daripada Gajah afrika, mempunyai dahi yang rata, dan dua bonggol di kepalanya merupakan puncak tertinggi gajah, dibandingkan dengan Gajah afrika yang mempunyai hanya satu bonggol di atas kepala. Selain itu, ujung belalai Gajah Asia hanya mempunyai 1 bibir, sementara Gajah Afrika mempunyai 2 bibir di ujung belalai. Kedua jenis kelamin Gajah Afrika mempunyai gading, sedangkan Gajah Asia hanya jantan yang mempunyai gading yang terlihat jelas.

Persebaran gajah di Asia meliputi India, Asia Tenggara termasuk Indonesia bagian barat dan Sabah (Malaysia Timur). Di Indonesia, gajah terdapat di Sumatera (Gajah sumatera) dan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (Gajah borneo).

Gajah termasuk dalam kategori hewan herbivora. Ia menghabiskan 16 jam sehari untuk mengumpulkan makanan. Makanannya terdiri atas sedikitnya 50% rumput, ditambah dengan dedaunan, ranting, akar, dan sedikit buah, benih dan bunga. Karena gajah hanya mencerna 40% dari yang dimakannya, mereka harus mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar. Gajah dewasa dapat mengkonsumsi 300 hingga 600 pon (140-270 kg) makanan per hari. Enam puluh persen dari makanan tersebut tertinggal dalam tubuh gajah dan tidak dicerna.

Sebagai anggota dari kelas mammalia, gajah berkembangbiak dengan cara melahirkan dari masa kehamilan kurang lebih 22 bulan. Pada saat lahir, bayi gajah memiliki berat sekitar 120kg dengan tinggi 90cm, dan bayi gajah adalah salah satu bayi mammalia terbesar di dunia.

Gajah hidup di dalam urutan sosial yang terstruktur. Kehidupan sosial dari jantan dan betina sangat berbeda. Betina menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam satu kelompok keluarga yang terdiri atas ibu, anak perempuan, saudara perempuan, dan bibi. Kelompok ini dipimpin oleh gajah betina tertua dan ketika seekor gajah betina sedang mengandung, maka 2 – 3 gajah betina lainnya akan menemani hingga si ibu gajah melahirkan. Sedangkan jantan dewasa menghabiskan waktunya dalam kehidupan sendiri (tidak berkelompok).

    1. Unta

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Mammalia

Ordo                : Artiodactyla

Familia : Camelidae

Genus               : Camelus

Species            : Camelus dromedarius

Nama Lokal     : Unta atau Onta

Keterangan :

Unta atau Onta adalah dua spesies hewan berkuku genap dari genus Camelus (satu berpunuk tunggal – Camelus dromedarius, satu lagi berpunuk ganda – Camelus bactrianus) yang hidup ditemukan di wilayah kering dan gurun di Asia dan Afrika Utara. Rata-rata umur harapan hidup unta adalah antara 30 sampai 50 tahun.

Domestikasi unta oleh manusia telah dimulai sejak kurang lebih 5.000 tahun yang lalu. Pemanfaatan unta antara lain untuk diambil susu (yang memiliki nilai nutrisi lebih tinggi dari pada susu sapi) serta dagingnya, dan juga digunakan sebagai hewan pekerja.

Mereka memiliki range temperatur udara yang mampu membunuh mayoritas makhluk hidup. Selain itu, mereka mampu untuk tidak makan dan minum selama beberapa hari.

Ada banyak hal yang membuat mereka mampu beradaptasi. Salah satunya adalah punuknya. Banyak orang mengira punuknya menyimpan air, tapi sebenarnya tidak. Punuk unta menyimpan lemak khusus, yang pada suatu saat bisa diubah menjadi air dengan bantuan oksigen hasil respirasi. Satu gram lemak yang ada pada punuk unta bisa diubah menjadi satu gram air.

Kemampuan adaptasi lainnya yang luar biasa adalah, sistem respirasinya meninggalkan sedikit sekali jejak uap air. uap air yang keluar dari paru-paru diserap kembali oleh tubuhnya melalui sel khusus yang terdapat di hidung bagian dalam, membentuk kristal dan suatu saat dapat diambil.

Tubuh unta dapat bertahan hingga pada suhu 41 derajat celcius. Lebih dari itu, unta mulai berkeringat. Penguapan dari keringat yang terjadi hanya pada kulitnya, bukan pada rambutnya. Dengan cara pendinginan yang efisien itu, unta mampu menghemat air cukup banyak.

Unta mampu bertahan dengan kehilangan massa sekitar 20%-25% selama berkeringat. Mayoritas makhluk hidup hanya mampu bertahan hingga kehilangan massa sekitar 3%-4% sebelum terjadi gagal jantung akibat mengentalnya darah. Meski unta kehilangan banyak cairan tubuh, darahnya tetap terhidrasi, hingga batas 25% tercapai.

Ada banyak hal mengapa darah unta tidak mengental pada kondisi di mana darah mayoritas makhluk hidup sudah mengental. Sel darah merah unta berbentuk oval, bukan bulat seperti makhluk hidup lainnya. Unta juga memiliki sistem imunitas yang cukup unik. Semua mamalia memiliki antibodi berbentuk Y dengan dua rantai panjang sepanjang Y itu dengan dua rantai pendek di setiap ujung dari Y tersebut, tapi unta hanya memiliki dua rantai panjang yang menjadikannya berbentuk lebih kecil sehingga mengurangi kemungkinan darah akan mengental.

Ginjal dan usus mereka sangat efisien dalam menyaring air. Bentuk urin mereka sangat kental dan kotoran mereka sangat kering sehingga bisa langsung dibakar ketika dikeluarkan.

    1. Rusa Tutul

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Mammalia

Ordo                : Artiodactyla

Familia : Cervidae

Genus               : Axis

Species            : Axis axis

Nama Lokal     : Rusa Tutul

Keterangan :

Rusa jenis tutul berasal dari daerah India dan Ceylon. Bulunya halus berwarna coklat sawo matang dan bermotif totol putih, berat badan dewasa 75 – 100 kg. Berat lahir 3 – 3,5 kg, panjang badan 150 cm, tinggi badan 110 – 140 cm.

Hidup berkelompok (2-6 ekor/kelompok) dan aktif pada siang hari, habitatnya padang rumput, semak, pada batas hutan yang ada sumber air minum Pakannya adalah rumput dan daun-daunan, ia dapat ditemukan pada ketinggian 1000 – 1200 meter diatas permukaan laut.

Siklus hidup : dewasa kelamin 1,5 – 2 tahun. Masa kehamilannya 7 – 7,5 bulan, jumlah anak per kelahiran 1 ekor. Interval kelahirannya 1 tahun, ranggah hanya dimiliki oleh rusa jantan, yang mempunyai tingkat pertumbuhan sebagai berikut :

} Pedicle (tempat tumbuhnya tunas ranggah)

} Velvet (ranggah muda yang diselimuti oleh bulu halus )

} Ranggah keras sampai lepas (casting)

Rataan setiap tahap pertumbuhan ranggah masing-masing adalah :

} Ranggah velvet 148,8+ 11,44 hari

} Ranggah keras 208,8 = 3,44 hari

} Tanpa ranggah 373, 6 + 11,52 hari

Dari tahap pertumbuhan tersebut dapat disimpulkan bahwa periode terlama dari tahap pertumbuhan ranggah dalam satu siklus berada pada tahap ranggah keras dimana pada periode ini rusa jantan berada pada masa aktif reproduksi dengan kisaran pada bulan JUNI-FEBRUARI.

    1. Beruang Madu

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Mammalia

Ordo                : Carnivora

Familia : Ursidae

Genus               : Helarctos

Species            : Helarctos malayanus

Nama Lokal     : Beruang Madu

Keterangan :

Beruang madu termasuk famili ursidae dan merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang ini adalah fauna khas provinsi Bengkulu sekaligus dipakai sebagai simbol dari provinsi tersebut. Beruang madu juga merupakan maskot dari kota Balikpapan. Beruang madu di Balikpapan dikonservasi di sebuah hutan lindung bernama Hutan Lindung Sungai Wain.

Panjang tubuhnya 1,40 m, tinggi punggungnya 70 cm dengan berat berkisar 50 – 65 kg. Bulu beruang madu cenderung pendek, berkilau dan pada umumnya hitam, matanya berwarna cokelat atau biru,selain itu hidungnya relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong..Jenis bulu beruang madu adalah yang paling pendek dan halus dibandingkan beruang lainnya, berwarna hitam kelam atau hitam kecoklatan, di bawah bulu lehernya terdapat tanda yang unik berwarna oranye yang dipercaya menggambarkan matahari terbit. Berbeda dengan beruang madu dewasa, bayi beruang madu yang baru lahir memiliki bulu yang lebih lembut, tipis dan bersinar. Karena hidupnya di pepohonan maka telapak kaki beruang ini tidak berbulu sehingga ia dapat bergerak dengan kecepatan hingga 48 kilometer per jam dan memiliki tenaga yang sangat kuat.

Kepala beruang madu relatif besar sehingga menyerupai anjing yakni memiliki telinga kecil dan berbentuk bundar. Beruang jenis ini memiliki lidah yang sangat panjang dan dapat dipanjangkan sesuai dengan kondisi alam untuk menyarikan madu dari sarang lebah di pepohonan. Selain itu, lidah yang panjangnya dapat melebihi 25 cm itu juga digunakan untuk menangkap serangga kecil di batang pohon. Beruang madu memiliki penciuaman yang sangat tajam dan memiliki kuku yang panjang di keempat lengannya yang digunakan untuk mempermudah mencari makanan.

Beruang madu lebih sering berjalan dengan empat kaki, dan sangat jarang berjalan dengan dua kaki seperti manusia. Lengan beruang jenis ini cukup lebar dan memiliki kuku melengkung serta berlubang yang memudahkannya memanjat pohon. Kuku tangan yang melengkung digunakan oleh beruang ini untuk menggali rayap, semut dan sarang lebah dan beruang yang sedang mencari madu akan segera menghancurkan kayu yang masih hidup dan segar dan bahkan berusaha untuk menggaruk pohon yang kayunya keras. Rahang beruang madu tidak proporsional karena terlalu besar sehingga tidak dapat memecahkan buah-buah besar seperti kelapa.

Gigi beruang ini lebih datar dan merata dibandingkan dengan jenis beruang lain, gigi taringnya cukup panjang sehingga menonjol keluar dari mulut. Ukuran tulang tengkorak kepala beruang madu pada umunya memiliki panjang tengkorak 264,5 mm, panjang condylobasal 241,3 mm, lebar zygomatic 214,6 mm, lebar mastoid 170,2 mm, lebar interorbital 70,5 mm, lebar maxilla 76,2 mm.

Beruang madu hidup di hutan-hutan primer, hutan sekunder dan sering juga di lahan-lahan pertanian, mereka biasanya berada di pohon pada ketinggian 2 – 7 meter dari tanah, dan suka mematahkan cabang-cabang pohon atau membuatnya melengkung untuk membuat sarang. Mereka memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman jenis palem. Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya.

    1. Kuda

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Mammalia

Ordo                : Perissodactyla

Familia : Equidae

Genus               : Equus

Species            : Equus caballus

Nama Lokal     : Kuda

Keterangan :

Kuda (Equus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Hewan ini telah lama merupakan salah satu hewan ternak yang penting secara ekonomis, dan telah memegang peranan penting dalam pengangkutan orang dan barang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak. Pada beberapa daerah, kuda juga digunakan sebagai sumber makanan. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak 2000 SM.

Kuda-kuda yang ringan, seperti kuda Arab, Morgan, Quarter Horse, Paint dan Thoroughbred beratnya bisa mencapai sekitar 590 kg. Kuda yang “berat” atau kuda beban, seperti misalnya Clydesdale, Draft, Percheron, dan Shire beratnya dapat mencapai hingga 907 kg.

  1. SPESIES AVES

Spesies Aves yang kelompok kami amati di Kebun Binatang “Gembira Loka” adalah sebagai berikut :

    1. Kakak Tua Jambul Kuning

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Aves

Ordo                : Psittaciformes

Familia : Cacatuidae

Genus               : Cacatua

Species            : Cacatua sulphurea

Nama Lokal     : Kakaktua-Kecil Jambul-Kuning

Keterangan :

Kakatua-kecil Jambul-kuning atau dalam nama ilmiahnya Cacatua sulphurea adalah burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga Cacatua. Burung ini hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua-kecil jambul-kuning berparuh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekornya juga berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan.

Daerah sebaran kakatua-kecil jambul-kuning adalah Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Bali, dan Timor, di tempat yang masih terdapat hutan-hutan primer dan sekunder. Pakan unggas cerdas dan gemar berkawanan ini terdiri dari biji-bijian, kacang, dan aneka buah-buahan. Burung betina menetaskan antara dua sampai tiga telur dalam sarangnya di lubang pohon.

Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut untuk perdagangan, serta daerah dan populasi dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, kakatua-kecil jambul-kuning dievaluasikan sebagai kritis di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.

    1. Kasuari Gelambir Dua

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Aves

Ordo                : Struthioniformes

Familia : Casuariidae

Genus               : Casuarius

Species            : Casuarius casuarius

Nama Lokal     : Kasuari Gelambir Dua

Keterangan :

Kasuari Gelambir Dua atau dalam nama ilmiahnya Casuarius casuarius adalah salah satu burung dari tiga spesies Kasuari. Burung dewasa berukuran besar, dengan ketinggian mencapai 170cm, dan memiliki bulu berwarna hitam yang keras dan kaku. Kulit lehernya berwarna biru dan terdapat dua buah gelambir berwarna merah pada lehernya. Di atas kepalanya terdapat tanduk yang tinggi berwarna kecoklatan. Burung betina serupa dengan burung jantan, dan biasanya berukuran lebih besar dan lebih dominan.

Burung Kasuari mempunyai kaki yang besar dan kuat dengan tiga buah jari pada masing-masing kakinya. Jari-jari kaki burung ini sangat berbahaya karena diperlengkapi dengan cakar yang sangat tajam. Seperti umumnya spesies burung-burung yang berukuran besar, burung Kasuari Gelambir Dua tidak dapat terbang.

Populasi Kasuari Gelambir Dua tersebar di hutan dataran rendah di Australia, pulau Irian dan pulau Seram di provinsi Maluku. Spesies ini merupakan satu-satunya burung di marga Casuarius yang terdapat di benua Australia. Pakan burung Kasuari Gelambir Dua terdiri dari aneka buah-buahan yang terjatuh di dasar hutan.

Burung Kasuari biasanya hidup sendiri, berpasangan hanya pada waktu musim berbiak. Anak burung dierami dan dibesarkan oleh burung jantan.

    1. Merak Hijau

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Aves

Ordo                : Galliformes

Familia : Phasianidae

Genus               : Pavo

Species            : Pavo muticus

Nama Lokal     : Merak Hijau

Keterangan :

Merak Hijau atau dalam nama ilmiahnya Pavo muticus adalah salah satu burung dari tiga spesies merak. Seperti burung-burung lainnya yang ditemukan di suku Phasianidae, Merak Hijau mempunyai bulu yang indah. Bulu-bulunya berwarna hijau keemasan. Burung jantan dewasa berukuran sangat besar, panjangnya dapat mencapai 300cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya kurang mengilap, berwarna hijau keabu-abuan dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor.

Populasi Merak Hijau tersebar di hutan terbuka dengan padang rumput di Republik Rakyat Cina, Indocina dan Jawa, Indonesia. Sebelumnya Merak Hijau ditemukan juga di India, Bangladesh dan Malaysia, namun sekarang telah punah di sana. Walaupun berukuran sangat besar, Merak Hijau adalah burung yang pandai terbang.

Pada musim berbiak, burung jantan memamerkan bulu ekornya di depan burung betina. Bulu-bulu penutup ekor dibuka membentuk kipas dengan bintik berbentuk mata. Burung betina menetaskan tiga sampai enam telur.

Pakan burung Merak Hijau terdiri dari aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing dan kadal kecil.

    1. Burung Hantu

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Aves

Ordo                : Strigiformes

Familia : Strigidae

Genus               : Ketupa

Species            : Ketupa ketupu

Nama Lokal     : Burung Hantu

Keterangan :

Burung hantu dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung lain yang matanya menghadap ke samping. Bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh elang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan “wajah” burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.

Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan; begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan daun-daun.

Ekor burung hantu umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

Kebanyakan jenis burung hantu berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari.

Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat; paruh yang kuat dan tajam; kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat; dan kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam. Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam kegelapan total, hanya berdasarkan indera pendengaran dibantu oleh bulu-bulu wajahnya untuk mengarahkan suara.

Burung hantu berburu aneka binatang seperti serangga, kodok, tikus, dan lain-lain.

Sarang terutama dibuat di lubang-lubang pohon, atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa jenis juga kerap memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak.

    1. Julang Emas

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Aves

Ordo                : Coraciiformes

Familia : Bucerotidae

Genus               : Aceros

Species            : Aceros undulatus

Nama Lokal     : Julang Emas

Keterangan :

Tubuh Julang Emas berukuran besar (100 cm). Punggung, sayap dan perutnya berwarna hitam. Ekornya putih.  Pada burung jantan, kepala berwarna krem. Bulu harus kemerahan bergantung dari tengkuk. Kantung leher kuning tidak berbulu dengan setrip hitam.

Pada burung betina, kepala dan leher berwarna hitam. Kantung leher biru. Iris merah, paruh kuning dengan tanduk kecil kerenyut, kaki hitam. Terbang dengan kepakan sayap yang berat dan suara keras. Terbang berpasangan atau dalam kelompok kecil.

Makanan burung ini adalah buah-buahan, Ficus, kepiting, kodok. Sarang berupa lubang pohon yang ditutupi kotoran, dengan betina terkurung didalamnya. Telurnya berwarna putih berbintik merah dan coklat, jumlah 1-2 butir. Berbiak pada bulan Juli-September.

Habitat burung ini adalah di hutan dataran rendah, perbukitan.
Tersebar sampai ketinggian 2.000 m dpl. Persebaran burung ini antara lain ada di daerah India Timur, Cina Barat daya, Asia tenggara, Semenanjung Malaysia. Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali.

  1. SPESIES REPTILIA

Spesies Reptilia yang kelompok kami amati di Kebun Binatang “Gembira Loka” adalah sebagai berikut :

    1. Komodo

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Reptilia

Ordo                : Squamata

Familia : Varanidae

Genus               : Varanus

Species            : Varanus komodoensis

Nama Lokal     : Komodo

Keterangan :

Komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Karena besar tubuhnya, kadal ini menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup.

Komodo ditemukan oleh peneliti barat tahun 1910. Tubuhnya yang besar dan reputasinya yang mengerikan membuat mereka populer di kebun binatang. Habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Biawak besar ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo, didirikan untuk melindungi mereka.

Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kilogram, namun komodo yang dipelihara di penangkaran sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo tidak memiliki indera pendengaran, meski memiliki lubang telinga. Biawak ini mampu melihat hingga sejauh 300 m, namun karena retinanya hanya memiliki sel kerucut, hewan ini agaknya tak begitu baik melihat di kegelapan malam. Komodo mampu membedakan warna namun tidak seberapa mampu membedakan obyek yang tak bergerak. Komodo menggunakan lidahnya untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli, seperti reptil lainnya, dengan indera vomeronasal memanfaatkan organ Jacobson, suatu kemampuan yang dapat membantu navigasi pada saat gelap.

Komodo adalah hewan karnivora. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya.

    1. Biawak

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Reptilia

Ordo                : Squamata

Familia : Varanidae

Genus               : Varanus

Species            : Varanus salvatori

Nama Lokal     : Biawak

Keterangan :

Biawak sangat menyerupai ular, dengan badan yang ramping, leher serta ekor yang panjang dan lidah bercabang. Kepalanya besar, ujung meruncing dan dapat ditegakkan/diangkat ke atas. Otaknya dilapisi tulang yang keras yang berguna untuk melindungi otak dari tekanan ketika menelan mangsanya yang besar. Hewan ini mempunyai gigi yang panjang. berujung tunggal, agak melengkung dan kadang-kadang bergerigi pada sisi belakangnya. Kulitnya mempunyai warna coklat tua dan terdapat bentukan melingkar seperti cincin berwarna kuning, dari dada sampai ekor. Hewan ini disebut juga biawak papua, dengan panjang tubuh bisa mencapai 4 m.

Perilaku : Hewan ini mampu memanjat  pohon dengan cekatan, karena dilengkapi dengan jari-jari yang amat  kuat, tetapi juga perenang yang bagus. Ekornya digunakan untuk menjaga keseimbangan pada saat hewan berenang dan untuk mempertahankan diri dari musuh-musuhnya. Ekornya tidak dapat di tanggalkan seperti pada kadal-kadal lainnya. Biawak mampu menelan mangsa yang besar seperti yang dilakukan oleh ular.

Reproduksi : Berkembang biak dengan cara bertelur. Telur-telurnya akan dimasukkan di sebuah lubang, ditimbun dengan pasir dan daun-daunan. Penetasan terjadi dengan adanya pemanasan dari sinar matahari. Setelah menetas anaknya akan keluar sendiri dari cangkangnya.

Pakan : Biawak bersifat predator, senang memangsa hewan lain apapun dapat dikalahkannya. Hewan yang masih kecil akan memakan serangga sedang yang dewasa memakan Mamalia, burung, Reptilia  lain dan juga telur. Di KRKB Gembira Loka, hewan ini diberi pakan daging sapi, daging kuda.

Habitat : Biawak hidup di tepi-tepi sungai dan di kolam. Daerah penyebaran Biawak yaitu di Asia Tenggara.

    1. Sanca Bodo

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Reptilia

Ordo                : Squamata

Familia : Pythonidae

Genus               : Python

Species            : Python molurus

Nama Lokal     : Sanca Bodo

Keterangan :

Sanca bodo (Python molurus) adalah sejenis ular anggota keluarga (familia) ular besar (Boidae) dan termasuk anak suku ular sanca. Ada dua anak jenis yang diakui: Python molurus molurus yang dijumpai di anakbenua India dan P. m. bivittatus Kuhl (1920) yang hidup secara alami di Indocina, Jawa, Bali, Sumbawa, dan sebagian Sulawesi. Anakjenis bivittatus ada yang mencapai panjang lebih dari lima meter. Rentang habitat mencakup sebagian besar daerah tropis dan subtropis. Wilayah jelajahnya mencakup berbagai habitat hutan namun selalu tidak terlalu jauh dari air dan kadang-kadang, daerah pemukiman manusia. Dalam beberapa dekade terakhir, ular ini juga menjadi penghuni liar hutan di Florida, Amerika Serikat, sebagai hewan invasif akibat para pemeliharanya melepaskan hewan ini begitu saja ke alam liar.

Ular ini memangsa berbagai vertebrata, namun paling besar adalah babi atau rusa tutul. Sebagaimana jenis sanca lainnya, sanca bodo bertelur dan betinanya “mengerami”. Akibat perburuan dan perusakan habitat, sanca bodo oleh IUCN dimasukkan sebagai spesies “hampir terancam”.

    1. Sanca Jaring

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Reptilia

Ordo                : Squamata

Familia : Pythonidae

Genus               : Python

Species            : Python reticulatus

Nama Lokal     : Sanca Jaring

Keterangan :

Species ini merupakan hewan terbesar dalam genusnya. Kepala besar, sehingga tetap kelihatan apabila dibenamkan dalam tubuhnya. Tubuhnya mempunyai sisik dengan pola warna tertentu yang sangat spesifik dan mencolok, menyerupai warna tinta sehingga sangat menarik. Polanya membentuk gambaran seperti jaring-jaring maka disebut juga ular sanca jaring. Tubuhnya dapat menjadi panjang 7,5 m. Hewan ini mempunyai taji yang terletak didekat kloaka.

Perilaku : Selama hidupnya hewan ini mengalami beberapa kali pergantian kulit. Ular sanca jaring akan merendam seluruh tubuhnya di dalam air dan tidak .makan, setiap kali akan mengalami pergantian kulit. Pengelupasan kulit dimulai dari kepala menuju ke daerah ekor. Apabila pergantian kulit sudah selesai, ular ini baru mau makan lagi. Reptil ini termasuk jenis reptil yang agresif apabila merasa terganggu oleh makhluk hidup sekitarnya. Belitannya sangat mematikan.

Reproduksi : Ular sanca jaring berkembang biak dengan cara bertelur. Fertilisasi terjadi di dalam. Hewan betina akan mengeluarkan telurnya 3-4 bulan setelah terjadi perkawinan. Sekali masa bertelur, hewan ini mengeluarkan 8-100 butir telur, dan dieramiselama 2-3 bulan.

Pakan : Ular sanca jaring lebih suka memakan mamalia yang kecil-kecil, tetapi burung, katak, Reptil dan ikan juga dimangsanya. Hewan ini membunuh mangsanya bukan dengan patukannya tetapj dengan cara membelit. Di KRKB  Gembira Loka, hewan ini di beri pakan bebek hidup. Pemberian pakan dilakukan ‘tiap dua minggu sekali dengan jumlah dua ekor.

Habitat : Ular ini lebih suka hidup didekat tempat pemukiman manusia dari pada dihutan atau di tempat terbuka. Daerah penyebarannya : Burma sampai kepulauan

    1. Kura-kura Darat

Gambar :

Phylum : Animalia

Sub phylum      : Chordata

Classis              : Reptilia

Ordo                : Testudinata

Familia : Ernydidae

Genus               : Land

Species            : Land tortoises

Nama Lokal     : Kura-kura Darat

Keterangan :

Kura-kura adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya ‘rumah’ atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.

Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapaks (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, ialah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Setelah penyusun mengamati berbagai jenis hewan dari spesies yang berbeda-beda, penyusun menjadi tahu apa saja ciri-ciri dan juga jenis-jenis hewan dari spesies mamalia, aves dan reptilia. Penyusun menjadi tahu akan banyak hal.

Lalu dari uraian materi yang telah dipaparkan di atas, penyusun menyimpulkan bahwa Mamalia adalah spesies yang hidup dengan ciri utama melahirkan dan menyusui anaknya. Aves adalah classis hewan yang mempunyai sayap, ia bisa terbang dengan sayap tersebut. Namun ada beberapa jenis aves yang tidak bisa terbang karena sayap yang dimiliki tidak bisa menopang berat tubuh mereka. Kemudian reptil. Reptil adalah classis hewan yang dapat hidup dalam dua lingkungan yang berbeda, yaitu lingkungan air dan lingkungan daratan

Masing-masing classis mempunya ciri-ciri tersendiri sesuai dengan lingkungan hidup mereka. Ciri tersebut adalah bentuk tubuh, cara bertingkah laku atau adaptasi, habitat maupun jenis makanan. Ciri-ciri tersebut adalah bertujuan untuk mempertahankan hidup mereka.

  1. SARAN

Demikian yang dapat penyusun paparkan, semoga apa  yang ada dapat bermanfaat untuk penyusun khususnya, dan pembaca pada umumnya.

Sedikit saran dari penyusun, sebagai calon seorang pendidik, hendaknya kita mengetahui tentang apa yang ada di sekitar kita. Seperti hewan-hewan misalnya. Setidaknya kita mengetahui apa saja jenis hewan disekitar kita, hewan yang dilindungi, hewan yang sudah punah atau hampir punah, hewan yang ada di darat maupun di laut dan sebagainya supaya mudah dalam mengajar. Supaya anak didik juga lebih termotivasi untuk belajar, mencari dan menemukan sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan mereka, Dan untuk menambah pengetahuan mereka.

Lebih diharapkan lagi, kita hafal klasifikasi dari hewan-hewan tersebut, sehingga nantinya kita akan lebih mudah mengajarkan pada anak didik kita kelak. Semoga anak didik kita akan termotivasi untuk dapat hafal dan faham akan  klasifikasi hewan juga kelak.

DAFTAR PUSTAKA

http://wikipedia.com/

http://gembiraloka.net/

About these ads
Komentar
  1. Girl mengatakan:

    wah, makasih banyak buat contoh laporan observasinya
    aku lagi bantu temen buat tugas mereka,
    ini jadi acuan yg berguna bgt.
    once again, thanks. (:
    keep posting good stuff!

  2. elylucuimud mengatakan:

    sama sama girl ..

    moga post ini berguna bagi yang lain juga ..

    sipp. keep posting gud stuff ! ^_^

  3. hanita mengatakan:

    hem makasih iya
    cuman saran sama kesimpulannya ga ada ya?

  4. Purwanto AzzHa mengatakan:

    makasih jeng contoh’y. . .

  5. Purwanto AzzHa mengatakan:

    tanks so much. .

  6. hazlinda mengatakan:

    Thank’s yaa…
    Ijincopy :-)
    Sebagai tmbhn literatur laporan saya

  7. carlos martins mengatakan:

    thankz ini sudah membantu saya dalam pengamatan dan wawancara yg saya buwat
    sehingga menjadi salah 1 laporan yg membantu saya menyelasaikan tugas pengamataan ini..

    skali lagi saya tidak lupa berterima kasi kepada orang yang telah membuat laporan ini..salam damai tuhan slalu bersama mu..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s